Cilacap, Kabarekspres.co.id || Pekerjaan Rehabilitasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Tersier (RPJIT) saluran irigasi BTR 6 Kelompok Tani Budidaya Desa Bumireja, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap, yang baru selesai dikerjakan kini menuai kecaman keras dari masyarakat petani.
Proyek yang sejak awal pelaksanaannya sudah menjadi sorotan publik tersebut, kondisinya kini memprihatinkan. Belum genap dua bulan selesai, dinding dan lantai saluran sudah mengalami kerusakan parah, retak, dan pecah serta mengelupas di sejumlah titik. Padahal, ironisnya, sejak selesai dikerjakan hingga berita ini diturunkan, saluran tersebut belum pernah dialiri air sama sekali.
Berdasarkan papan informasi proyek dan dokumen yang dihimpun di lapangan, pekerjaan ini merupakan kegiatan dari Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap.
Identitas Proyek:
Nama Kegiatan: Pembangunan Prasarana Pertanian – Rehabilitasi dan Pemeliharaan Jaringan Usaha Tani
Pekerjaan: RPJIT Saluran Irigasi BTR 6 Kelompok Tani Budidaya Desa Bumireja Kec. Kedungreja
Lokasi: Desa Bumireja, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap
Sumber Dana: APBD Tahun Anggaran 2026
DPA: DPA/A.1/3.27.0.00.0.00.01.0000/001.2026
Kode Kegiatan: 3-27.03.2.02 / Sub Kegiatan: 3.27.03.2.02.0010
Nilai Anggaran: Rp 123.603.000 (Seratus Dua Puluh Tiga Juta Enam Ratus Tiga Ribu Rupiah)
Nomor SPK: 000.3/896/30/2026, tanggal 15 Juli 2026
Jangka Waktu: 60 Hari Kalender, s/d 12 September 2026
Pelaksana: CV Kayla Jaya – Direktur Dwi Ricky Chandra, Alamat Jl. Anggrek No. 6 RT 04 RW 10 Kelurahan Sidakaya
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK): Nurkholis, S.I.P., M.M – Kepala Bidang PSP Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap
Nomor BA Pengadaan Langsung: 000.3.2/ BAEP/10788973000/PERTANIAN/2026
Kondisi di Lapangan Memprihatinkan
Dari pantauan tim media di lokasi pada Minggu (25/10/2026) di area persawahan Bumireja, Kecamatan Kedungreja – koordinat Lat -7.539485° Long 108.789102°, kerusakan terlihat sangat jelas.
Pada dinding saluran, acian plesteran terkelupas cukup parah. Sambungan siar muai / dilatasi antara pilaster dan dinding terlihat menganga dan tidak diisi sealant, sehingga menjadi titik lemah.
Yang paling disoroti petani, lantai dasar saluran (floor) terlihat tidak diberi acian, hanya adukan kasar dan batu yang tidak rata. Hal ini sangat rawan bocor dan jebol saat nanti dialiri air dengan debit besar di musim penghujan.
“Kepriwe ora rusak, wong nembe dadi bae uis retak-retak pada ambrol dewek. Padahal urung pernah di aliri banyu. Lantai ora diaci, esih gronjal-granjul. Nek mengko musim udan banyu gede, ya langsung ambrol kabeh,” keluh salah seorang petani Bumireja yang enggan disebutkan namanya kepada media ini.
Warga menilai pekerjaan tersebut dikerjakan asal-asalan dan diduga tidak sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan spesifikasi teknis. pasangan batu dan adukan plesteran diduga menggunakan campuran semen yang sangat minim.
Tuntutan Petani: Kroscek dan Beri Sanksi Tegas
Petani di Kecamatan Kedungreja yang tergabung dalam beberapa kelompok tani meminta Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap selaku pemilik kegiatan dan Komisi C DPRD Kabupaten Cilacap untuk segera turun ke lokasi melakukan pengecekan (kroscek) langsung.
Mereka mendesak agar ada perbaikan total sebelum datangnya musim penghujan, mengingat saluran BTR 6 ini menjadi urat nadi pengairan hektaran sawah di Bumireja.
“Kami minta kepada Kepala Dinas Pertanian Cilacap dan PPK-nya Pak Nurkholis untuk bertanggung jawab. Jangan tutup mata. Ini uang negara dari APBD Rp 123 juta lebih. Kami juga minta Komisi C DPRD Cilacap sidak lokasi. Kalau memang pelaksananya nakal, CV Kayla Jaya harus diberi sanksi tegas, masuk daftar hitam,” tegas warga lainnya.
Hingga berita ini dipublikasikan, pihak pelaksana CV Kayla Jaya, Direktur Dwi Ricky Chandra, maupun Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Nurkholis, S.I.P., M.M belum berhasil dikonfirmasi.
Pihak media masih berupaya melakukan konfirmasi lanjutan untuk mendapatkan hak jawab dari semua pihak terkait demi keberimbangan pemberitaan.
Warta:Siswanto

