BINANGUN –kabarekpres.co.id/ Alunan instrumen gamelan yang bertalu-talu memecah keheningan malam di Desa Binangun Bantarsari Cilacap pada Kamis (7/5/2026). Ribuan warga tumpah ruah memadati pelataran utama desa untuk merayakan tradisi tahunan Sedekah Bumi, sebuah ritual syukur atas melimpahnya hasil tani dan keselamatan desa.
Tahun ini, perayaan terasa lebih istimewa dengan kehadiran dalang kondang Ki Martono Wahyu Carito yang membawakan lakon epik nan sarat makna, Begawan Pijanga Karna.
Simbol Syukur dan Perekat Sosial
Acara dimulai sejak sore hari dengan prosesi tumpengan dan doa bersama. Kepala Desa Binangun,Mardiono, dalam sambutannya, menegaskan bahwa Sedekah Bumi bukan sekadar pesta rakyat, melainkan bentuk penghormatan kepada alam dan sang Pencipta.
“Sedekah Bumi adalah cara kami mengingat akar. Di tengah kemajuan zaman tahun 2026 ini, Binangun Bantarsari Cilacap,tidak boleh lupa pada tanah yang memberi kita kehidupan. Wayang kulit malam ini adalah sarana kita belajar tentang pengabdian,” ujar beliau di sela-sela prosesi penyerahan tokoh wayang (gunungan) kepada sang dalang.
Lakon “Begawan Pijanga Karna”: Sebuah Refleksi Pengabdian
Memasuki pukul 21.00 WIB, Ki Martono Wahyu Carito mulai memainkan jemarinya. Lakon Begawan Pijanga Karna dipilih bukan tanpa alasan. Cerita ini mengisahkan sisi lain dari sosok Adipati Karna tokoh yang sering terjebak dalam dilema antara loyalitas, garis keturunan, dan darma (kewajiban).
Dalam lakon ini, Karna digambarkan sebagai sosok yang mencapai puncak spiritualitasnya. Penonton diajak menyelami batin sang pahlawan yang tetap teguh memegang janji meski badai konflik menerjang. Pesan moral tentang kesetiaan dan pengorbanan ini dirasakan sangat relevan dengan semangat gotong royong warga Binangun.
Sorotan Pertunjukan:
Sabetan Wayang: Ki Martono menampilkan teknik sabetan yang dinamis, terutama saat adegan perang tanding yang membuat penonton menahan napas.
Goro-Goro: Komedi segar di tengah malam yang dibawakan oleh tokoh Punokawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) berhasil mengocok perut warga dengan guyonan khas yang menyentil isu-isu sosial terkini.
Tata Cahaya & Suara: Penggunaan teknologi sound system mutakhir membuat dentuman kendang dan merdunya suara sinden terdengar jernih hingga sudut desa.
Ekonomi Kerakyatan Berdenyut
Tak hanya soal budaya, perhelatan wayang kulit semalam suntuk ini juga menjadi berkah bagi UMKM lokal. Puluhan pedagang kaki lima berjajar menjajakan kuliner khas, mulai dari nasi liwet hingga jajanan pasar, yang ludes diserbu pengunjung dari dalam maupun luar desa.
Hingga fajar menyingsing di ufuk timur, antusiasme warga tidak surut. Suara sang dalang yang mengakhiri lakon dengan tancep kayon menjadi penanda berakhirnya ritual syukur tersebut.
Harapan Kedepan
Dengan suksesnya gelaran Sedekah Bumi 2026, Desa Binangun Bantarsari Cilacap membuktikan bahwa tradisi adiluhung seperti Wayang Kulit tetap memiliki tempat di hati generasi masa kini. Acara ini ditutup dengan harapan agar hasil panen di tahun mendatang semakin melimpah dan seluruh warga dijauhkan dari segala marabahaya.
Reporter: ibin,
Tanggal: 7 Mei 2026

