Kabarekspres.co.id/ Jakarta, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Pertanian dan Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia (GAPERKASINDO), Hasyari Nasution, menegaskan bahwa kandungan nitrit pada bahan makanan tidak sepenuhnya berasal dari penggunaan pupuk nitrogen atau urea dalam sektor pertanian.
Hasyari, dalam keterangan tertulis, menjelaskan bahwa kontribusi pupuk nitrogen terhadap kandungan nitrit dalam bahan pangan relatif kecil. “Persentase kandungan nitrit yang berasal dari pupuk nitrogen atau urea hanya sekitar 20 persen,” ujar Hasyari yang saat ini tengah menunaikan ibadah Haji di Mekah, Selasa (5/5).
Ia menambahkan, nitrit dari pupuk urea tidak secara langsung menyebabkan keracunan. Namun, dalam kondisi tertentu, senyawa tersebut dapat berubah menjadi nitrosamin di dalam tubuh manusia, yang berpotensi bersifat karsinogenik.
Meski demikian, Ia menilai petani pada umumnya telah memahami risiko penggunaan pupuk nitrogen secara berlebihan. Penggunaan yang tidak tepat justru dapat merugikan petani sendiri karena berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman bahkan menyebabkan gagal panen.
“Petani sangat sadar bahwa penggunaan pupuk urea yang berlebihan dapat merusak tanaman. Jadi kecil kemungkinan mereka menggunakan pupuk secara berlebihan,” terang sosok yang sudah lebih dari 38 tahun menggeluti usaha pertanian dan perkebunan.
Menurutnya, faktor lain yang lebih dominan dalam menyebabkan tingginya kandungan nitrit pada bahan makanan adalah lemahnya pengawasan dalam rantai pasok pangan. Hal ini mencakup aspek infrastruktur, higiene dapur, pengendalian mutu bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi produk akhir kepada masyarakat.
Dalam kesempatan ini, Hasyari juga menyayangkan pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang dinilai menyudutkan petani sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kandungan nitrit dalam makanan.
“Kami berharap pernyataan yang disampaikan dapat lebih bijak dan berbasis data yang komprehensif, agar tidak menimbulkan keresahan di kalangan petani,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa pemerintah, khususnya Presiden melalui Menteri Pertanian, telah bekerja keras mendorong peningkatan produktivitas petani guna mencapai swasembada pangan hingga ke tahap hilirisasi.
Sebagai solusi jangka panjang, GAPERKASINDO mendorong penguatan penggunaan pupuk hayati, organik, dan semi-organik yang lebih ramah lingkungan serta memiliki residu unorganik yang lebih rendah.
Di sisi lain, Hasyari mengingatkan bahwa keterbatasan daya beli petani terhadap pupuk juga menjadi faktor yang membuat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan relatif kecil kemungkinannya.
Menutup pernyataannya, ia menegaskan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam membangun sistem pertanian yang sehat dan berkelanjutan.
“Bangsa yang sehat, cerdas, dan berdaulat lahir dari pangan yang berasal dari sistem pertanian yang ramah lingkungan dan minim residu. Karena itu, mari kita bekerja sama untuk mewujudkannya,” pungkasnya. (HN)

