Berita terkini Daerah Jawa Tengah

Dapur Program Makan Bergizi Gratis di Bantarsari Disorot, Limbah Minyak Cemari Parit Warga.

CILACAP Kabarekpres.co.id/Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Bantarsari yang dikelola oleh Yayasan Darur Rochim (Emilio) kini tengah menjadi buah bibir masyarakat. Bukan karena prestasi distribusinya, melainkan dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat ketiadaan sistem pengolahan limbah yang memadai.

Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan selama lima bulan di wilayah Desa Bulaksari dan Bantarsari ini diduga kuat telah mencemari saluran air (got) milik warga setempat. Berdasarkan pantauan di lapangan, limbah sisa produksi dapur mengalir langsung ke parit warga, menyebabkan endapan minyak dan aroma tidak sedap yang menyengat.

Fakta di Lapangan

Dapur SPPG Emilio saat ini melayani kebutuhan gizi untuk sekitar 3.000 kuota yang tersebar di 24 sekolah, mulai dari tingkat TK, SD, SMP, MI, hingga SMA. Namun, operasional skala besar ini ternyata tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur sanitasi.

Saat dilakukan kroscek di lokasi dapur, ditemukan bahwa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) ternyata masih dalam tahap pembangunan. Hal ini kontras dengan aktivitas dapur yang sudah berjalan hampir setengah tahun.

Keluhan Warga, Bau dan Minyak

Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya terhadap pengelola. Menurutnya, sejak dapur tersebut beroperasi, kenyamanan warga terganggu.

“Semenjak ada dapur MBG ini, timbul bau yang tidak sedap. Saluran air di depan rumah jadi tergenang minyak limbah dari dapur mereka. Kami khawatir ini berdampak pada kesehatan,” ujarnya kepada awak media.

Klarifikasi Pihak Yayasan

Menanggapi polemik tersebut, Santi, selaku mitra dari Yayasan Darur Rochim, mengakui adanya keterlambatan dalam pembangunan sistem pembuangan limbah. Ia berdalih bahwa kendala utama terletak pada masalah finansial.

“Pembuatan IPAL memang menunggu anggaran. Berhubung anggaran belum terkumpul, pembuatannya sempat tertunda. Namun, dari pihak yayasan saat ini sudah bekerja sama dengan pihak LMBH untuk penanganannya, di samping itu dapur MBG ini pun sudah di kunjungi oleh wakil bupati kabupaten Cilacap, jelas Santi saat memberikan keterangan.

Urgensi Standar Higienitas dan Lingkungan

Ironisnya, program yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan anak sekolah ini justru menyisakan persoalan sanitasi di lingkungan sekitarnya. Warga berharap pihak Badan Gizi Nasional dan instansi terkait segera turun tangan untuk memastikan bahwa setiap satuan pelayanan (SPPG) memenuhi standar AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) sebelum beroperasi secara penuh.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu langkah nyata dari pengelola yayasan untuk membersihkan saluran air yang tercemar agar aktivitas warga tidak lagi terganggu oleh aroma busuk limbah dapur.

( Ibin )

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *