Upaya mencegah dan memutuskan mata rantai perundungan di kalangan pelajar mendapat perhatian serius melalui Festival INSAN Jogja Anti-Bullying yang diselenggarakan Pusat Unggulan IPTEKS Kajian Ilmu Pendidikan (PUI KIP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Selasa (29/9/2026) di Auditorium UNY.
Festival ini menjadi puncak rangkaian Program IN- SAINTEK setelah sebelumnya dilaksanakan kegiatan Srawung Pendidikan serta Sosialisasi dan Diseminasi INSAN Anti-Bullying. Kegiatan menghadirkan berbagai aktivitas edukatif dan kreatif yang melibatkan pelajar, sekolah, akademisi, praktisi, pemerintah, serta masyarakat.
Program ini mendapat dukungan dari In-Saintek SEMESTA (Sinergi Kreasi masyarakat dan Akademisi untuk Kemajuan Sains dan Teknologi Nusantara) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Minatsaintek)
Hadir dalam acara Festival INSAN Jogja Anti-Bullying Bapak Aris Winarna, SE., MM selaku Kepala Bagian Tata Usaha Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi mewakili Direktur Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi.
Mengangkat semangat pencegahan perundungan melalui pendidikan dan kearifan lokal, Festival INSAN tidak hanya mengajak peserta mengenali persoalan bullying, tetapi juga mendorong perubahan budaya dan kebiasaan sosial yang dapat menjadi sumber reproduksi kekerasan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Perundungan masih menjadi persoalan serius.
Perhatian tentang persoalan perundungan menjadi semakin relevan karena data yang disampaikan Pemerintah Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa perundungan masih sering terjadi di lingkungan pendidikan.
Sekda Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori menyampaikan bahwa terdapat 11 kasus perundungan yang dilaporkan pada semester pertama 2026. Sementara itu, Data Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta yang dikutip Suara Jogja. Id mencatat 196 kasus bullying pada 2025. Namun, persoalan tersebut tidak semata dilihat dari jumlah kasus. Menurut Ketua PUI KIP UNY, Dr. Ariefa Efianingrum. M.Si. perundungan perlu dipahami sebagai fenomen sosial dalam situasi tertentu dapat direproduksi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kebiasaan mengejek, memberikan panggilan yang merendahkan, memperlakukan, atau melakukukan kekerasan verbal yang pernah dianggap sebagai bagian dari interaksi sosial pada generasi sebelumnya dapat muncul kembali bentuk yang berbeda pada generasi sekarang. Karena itu, pencegahan bullying tidak cukup hanya dilakukan setelah kasus terjadi.
Upaya pencegahan perlu menyentuh kebiasaan, nilai dan budaya yang berkembang dalam kehidupan sehari hari anak dan dan remaja.
” Yang perlu kita putus bersama adalah siklus kekerasan itu dengan mengkampanyekan nilai nilai kearifan lokal adiluhung atau local wisdom yang menguatkan nilai respect/menghargai, cinta kasih, rasa hormat dan saling mengasihi” demikian gagasan yang disampaikan Ariefa di sela-sela kegiatan tersebut.
Kearifan Lokal sebagai Bagian dari strategi pencegahan Bullying
Pendekatan kearifan lokal menjadi salah satu gagasan utama dalam Festival INSAN dengan menggali nilai budaya Yogyakarta yang menekankan penghormatan, tata krama, kepedulian serta kehidupan sosial ynag harmonis dipandang dapat diterjemahkan menjadi kebiasaan nyata dalam kehidupan sekolah. Pemkot Yogyakarta telah mengembangkan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) sebagai salah satu strategi penguatan nilai budaya di lingkungan pendidikan. Sekda Kota Yogyakrta Budi Santosa Asrori menjelaskan bahwa nilai menghormati yang lebih tua sekaligus menghargai yang lebih muda perlu dibangun melalui pembiasaan di sekolah dan lingkungan sosial anak.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pencegahan perundungan membutuhkan kerja bersama keluarga, sekolah, masyarakat, media, perguruan tinggi, pemerintah, yang memiliki peran dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman.
Enam Aktivitas dalam Satu Festival
** ( Suarspb )


