CILACAP Kabarekpres .co.id / Industri Kecil Menengah (IKM) penyulingan minyak kayu putih di Desa Cisumur, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, kini tengah menghadapi masa sulit. Meski ketersediaan bahan baku melimpah, aktivitas produksi justru terhenti total atau “mati suri” akibat fluktuasi harga pasar yang tidak menentu.
Ketidakseimbangan Biaya Produksi
Salah satu pengrajin penyulingan setempat, ZN, mengungkapkan bahwa berhentinya operasional ini bukan disebabkan oleh kelangkaan daun kayu putih, melainkan faktor ekonomi yang tidak sinkron. Menurutnya, biaya operasional dan produksi saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual yang diterima di pasaran.
“Kami berhenti produksi bukan karena tidak ada bahan baku, tapi karena tidak seimbang antara biaya produksi dengan pendapatan. Kalau dipaksakan jalan, kami justru merugi,” ujar ZN saat ditemui di Desa Cisumur, Selasa (3/2/2026).
Menanti Uluran Tangan Investor dan Pemerintah
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan keberlangsungan ekonomi lokal di wilayah Gandrungmangu. Para pengrajin berharap adanya intervensi dari pihak eksternal untuk menyelamatkan sektor UMKM ini. Ada dua poin utama yang diharapkan oleh para pelaku usaha:
Kehadiran Investor:
Diharapkan ada mitra investor yang mampu membantu menstabilkan harga serapan minyak kayu putih agar pengrajin mendapatkan margin keuntungan yang layak.
Peran Dinas UMKM:
Para pengrajin mendesak Dinas UMKM Kabupaten Cilacap untuk turun tangan memberikan pembinaan, proteksi harga, atau solusi pemasaran guna mempertahankan usaha yang menjadi sandaran hidup warga tersebut.
Tanpa adanya langkah nyata untuk menstabilkan harga, dikhawatirkan peralatan penyulingan warga akan terbengkalai dan menjadi besi tua, sementara potensi alam yang ada di wilayah Cilacap tidak dapat ter optimalkan secara ekonomi.pewarta :(ibin)

